JURUSAN KESREK FIK UNP BERSIAP MENGHADAPI GELIAT SPORT TOURISM

bedah kurikulum Sport TourismMenjawab tantangan perkembangan pariwisata Suamtera Barat khususnya Indonesia pada umumnya, Jursan Kesehatan dan Rekreasi FIK UNP mengadakan kegiatan rapat team teaching mata kuliah Olahraga Rekreasi dan mata kuliah Olahraga Pariwisata yang bertujuan untuk memperbaruhi silabus mata kuliah sesuai kebutuhan daerah.
Dalam kegiatan ini Rapat dipimpin oleh ketua tim yaitu Bpk. Dr. Anton Komaini, M.Pd dan diikuti oleh tim yaitu Endang Sepdanius S.Si., M.Or., Ardi Arif, S.Si., M.Pd., Yogi Andria, M.Or, Alimudin, M.Or., Windor Wiria Dinata, M.Or., Anggun Permata Sari, S.Si., M.Pd., Liza, S.SI., M.Pd dan Sonya Nelson, M.Pd.
Rapat persiapan ini dilaksanakan di ruang jurusan kesehatan dan rekreasi. Yang dilaksanakan pada tanggal 21 Januari 2020 dimulai pada jam 16.00 sampai dengan selesai. Tujuan pelaksanaan rapat ini adalah untuk lebih mempersiapkan dosen dengan perangkat pembelajaran yang lengkap dan mudah dimengerti dan dipahami oleh mahasiswa serta memantapkan materi-materi yang diberikan kepada mahasiswa sesuai kebutuhan daerah.

PB PGRI Dukung Pemerintah Kembalikan Penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di SMA
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) akan kembali menerapkan penjurusan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), dan Bahasa di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Kebijakan ini rencananya akan diterapkan mulai tahun ajaran 2025/2026.

Rencana menerapkan kembali penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di tingkat SMA setelah sempat dihapus pada pemerintahan sebelumnya ini mendapatkan dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI).

Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi mengatakan penjurusan di tingkat SMA sangat penting agar anak-anak menjadi ahli di bidang tertentu.

Harapan agar siswa menguasai semua ilmu itu baik, tapi jika tidak siap yang terjadi malah siswa tidak mendapatkan ilmu apa-apa atau hanya sedikit. Jadi dengan adanya penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa itu bagus agar siswa bisa mempelajari ilmu sesuai dengan minatnya dan menjadi ahli,” ujar Unifah, dalam keterangan tertulis.

Belum Ada Sinkronisasi Pendidikan di SMA dan PT
Ia menambahkan bahwa belum adanya sinkronisasi antara pendidikan SMA dengan perguruan tinggi. Hal ini dikarenakan beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN), pada tahun pertama mahasiswa baru harus lulus dalam perkuliahan bersama untuk mata pelajaran fisika, kimia, dan biologi walaupun jurusannya bukan teknik.

“Sehingga mata pelajaran tersebut, tetap diajarkan sebagai bekal di PTN nantinya, termasuk untuk pilihan IPS. Karena apabila siswa yang memiliki cita-cita menjadi akuntan dapat melepaskan geografi atau sosiologinya. Namun apabila berubah menjadi ahli hukum diberikan syarat kedua pelajaran tersebut akan dipelajari saat di perguruan tinggi,” kata Heri.

Senada dengan hal itu, Guru Geografi SMA Pangudi Luhur II Servasius Bekasi, Ignasius Sudaryanto, menjelaskan bahwa para siswa menghadapi kebingungan dalam pemilihan mata pelajaran peminatan, sehingga banyak yang tidak sesuai saat melaksanakan perkuliahan.

“Hal itu juga dialami oleh Sekolah yang menemukan kesulitan dalam membagi jam mengajar guru, karena ada mata pelajaran yang peminatnya Jadi para pengguna kami merupakan prioritas utama. Di sini pemain akan mendapatkan pilihan game inter77 yang beragam yang sangat menarik untuk diakses.  sedikit sehingga guru kurang jam mengajar yang akan berdampak pada TPG/Sertifikasi. Akan tetapi juga ada mata pelajaran yang kelebihan minat siswa,” tegasnya.

“Saya sangat setuju kalau penjurusan/pemilihan mata pelajaran dikembalikan seperti dulu yaitu jurusan IPA, IPS dan Bahasa. Hal ini akan membuat siswa lebih fokus belajar, dan sekolah lebih mudah mengelola tenaga pendidik,” tutur Sudaryanto.

Sementara itu, Praktisi Pendidikan, Heriyanto mengungkapkan, berdasarkan pemantauan di lapangan, kebijakan penghapusan penjurusan SMA tidak sepenuhnya dijalankan dengan baik.

“Terlalu dini di kelas XI awal, siswa harus menetapkan profesinya apa kelak. Sehingga ada beberapa mata pelajaran yang perlu diambil dan dilepaskan, padahal itu adalah mata pelajaran dasar yang sangat diperlukan,” ungkap Heri.

“Dengan contoh, jika siswa yang memilih kedokteran dapat melepaskan fisika, dan konsentrasi pada biologi dan kimia. Namun persoalan yang sering muncul adalah ketika pilihan profesi siswa bisa saja berubah di kelas XII menjadi teknik, sedangkan dalam 2 atau 3 semester sebelumnya, mereka tidak mempelajari fisika,” katanya.

Belum Ada Sinkronisasi Pendidikan di SMA dan PT
Ia menambahkan bahwa belum adanya sinkronisasi antara pendidikan SMA dengan perguruan tinggi. Hal ini dikarenakan beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN), pada tahun pertama mahasiswa baru harus lulus dalam perkuliahan bersama untuk mata pelajaran fisika, kimia, dan biologi walaupun jurusannya bukan teknik.

“Sehingga mata pelajaran tersebut, tetap diajarkan sebagai bekal di PTN nantinya, termasuk untuk pilihan IPS. Karena apabila siswa yang memiliki cita-cita menjadi akuntan dapat melepaskan geografi atau sosiologinya. Namun apabila berubah menjadi ahli hukum diberikan syarat kedua pelajaran tersebut akan dipelajari saat di perguruan tinggi,” kata Heri.

Senada dengan hal itu, Guru Geografi SMA Pangudi Luhur II Servasius Bekasi, Ignasius Sudaryanto, menjelaskan bahwa para siswa menghadapi kebingungan dalam pemilihan mata pelajaran peminatan, sehingga banyak yang tidak sesuai saat melaksanakan perkuliahan.

“Hal itu juga dialami oleh Sekolah yang menemukan kesulitan dalam membagi jam mengajar guru, karena ada mata pelajaran yang peminatnya sedikit sehingga guru kurang jam mengajar yang akan berdampak pada TPG/Sertifikasi. Akan tetapi juga ada mata pelajaran yang kelebihan minat siswa,” tegasnya.

“Saya sangat setuju kalau penjurusan/pemilihan mata pelajaran dikembalikan seperti dulu yaitu jurusan IPA, IPS dan Bahasa. Hal ini akan membuat siswa lebih fokus belajar, dan sekolah lebih mudah mengelola tenaga pendidik,” tutur Sudaryanto.

Alasan Pemerintah Kembali Aktifkan Jurusan IPA, IPS, dan Bahasa di SMA

Mendikdasmen Abdul Mu’ti mengungkap alasan kembali menghidupkan penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di tingkat SMA adalah untuk menunjang pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA).

Adapun diketahui, TKA digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam penerimaan mahasiswa baru di tingkat perguruan tinggi, yang di mana akan mulai diuji coba dan diberlakukan pada murid jenjang kelas 12 atau kelas 3 SMA pada bulan November 2025.

“TKA itu nanti berbasis mata pelajaran untuk membantu para pihak, terutama murid yang melanjutkan ke perguruan tinggi. Nah, karena Slot77 menjadi situs slot terlengkap yang sudah memberikan akses kemudahan bagi semua pemain yang ingin menikmati m77 slot permainan slot luar negri yang memiliki garansi kekalahan 100 terbaik. tesnya berbasis mata pelajaran sehingga ke depan ini jurusan akan kami hidupkan lagi. Jadi, nanti akan ada lagi jurusan IPA, IPS, dan Bahasa,” kata Mu’ti seperti dilansir dari Antara, Sabtu (12/4/2025).

Menurut dia, di dalam TKA tersebut akan ada mata pelajaran yang wajib diikuti oleh siswa dari ketiga jurusan tersebut, yakni mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika, ditambah dengan mata pelajaran khusus jurusan.

Beri Gambaran Lebih Jelas
Karenanya, kata Mu’ti, murid dengan penjurusan IPA dapat memilih tambahan tes mata pelajaran Fisika, Kimia atau Biologi selain tes Bahasa Indonesia dan Matematika.

Sedangkan murid penjurusan IPS dapat memilih tambahan tes mata pelajaran Ekonomi, Sejarah, dan mata pelajaran lain yang ada dalam rumpun ilmu sosial.

Mu’ti berharap dengan kembalinya memberlakukan penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa di tingkat SMA sekaligus dihadirkan TKA, maka bisa memberikan gambaran yang lebih jelas terkait kemampuan murid dan kecocokannya dengan program studi yang dipilih pada jenjang perguruan tinggi.

“Dengan cara seperti itu, kemampuan akademik seseorang akan menjadi landasan ketika ingin melanjutkan ke perguruan tinggi di jurusan tertentu. Jadi, bisa dilihat dari nilai kemampuan akademiknya,” tutur dia.

Kemendikdasmen, kata Mu’ti, berharap TKA dapat menjadi alat tes individu yang valid dan terstandar bagi perguruan tinggi dalam mempertimbangkan kelulusan calon mahasiswa baru.
Kegiatan rapat dibuka dengan mengedepankan tingkatan materi dari masing-masing mata kuliah kemudian mendeskripsikan capaian dan target yang akan di dapat oleh mahasiswa selama ikut dalam pembelajaran. Konsep yang dianut dari kegiatan perkuliahan dalam mata kuliah tersebut adalah atractif. Mahasiswa di awal semester diberi beri pembekalan materi yang lengkap terkait dengan konsep olarhaga rekreasi dan konsep olahraga pariwisata.

Dr. Anton Komaini menjelaskan bahwa dengan dua mata kuliah ini diharapkan mahasiswa-mahasiswa yang telah selesai mengikuti mata kuliah ini mampu mengembangkan dan melaksanakan kegiatan yang terkait dengan pelaksanaan olahraga rekreasi, sport event, active sport tourism. Sejalan dengan itu, Endang Sepdanius menambahkan bahwa mahasiswa hendaknya juga mampu mengidentifikasi kegiatan Nostalgia sport tourism yang bisa dilaksanakan di daerah yang ada di Sumatera Barat. Kemudian juga Endang menambahkan bahwa Sumatera Barat memiliki daerah yang lengkap. Secara tradisional daerah-daerah di Sumatera Barat telah lama melaksanakan kegiata rekreasi mereka dengan caranya sendiri. Hal ini bisa menjadi nilai tambah dari sport tourism di Sumatera Barat dari sisi traditional sport tourism.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>